![]() |
Gunung Bayang Kaki. |
Cerita perjalannya berawal dari tahun 1742, di Kartasura ada pemberontakan yang memperebutkan tahta. Yang pada saat itu Keraton Kartasura direbut oleh Raden Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning.
Pangeran Kalipo Kusumo adalah putra raja Amangkurat yang digulingkan. Bersama keluarga dan pengikutnya lalu mengungsi hingga ke kawasan timur Ponorogo. Di bawah sebuah gunung kemudian beliau beristirahat, lalu membuka hutan dijadikan lahan pertanian, hasilnya ternyata sangat baik mencukupi untuk keluarga dan pengikutnya.
Di bawah gunung juga terdapat beberapa gua sehingga Pangeran Kalipo Kusumo tidak perlu membuat rumah. Diantara gua tersebut adalah :
- Gua Watu Tinutup : Untuk rumah dan pertapaan pangeran Kalipo Kusumo.
- Gua Putrid Piningit : Tempat anak perempuan dan istri
- Gua Dandang : untuk memasak
- Gua lumbu dan gua Lawa.
Di tempat tersebut Pangeran Kalipo Kusumo bertekad meninggalkan kehidupan duniawi dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setelah meninggal beliau dimakamkan di puncak gunung dengan cara dibayang (ditumpangkan ke lutut) karena sulitnya medan sehingga gunung tersebut akhirnya dinamakan gunung Bayang Kaki.
Adapun putra Pangeran Kalipo Kusumo, yaitu :
1. Raden Mas Lelah: Dimakamkan di Desa Kori kec. Sawoo
2. Raden Mas Dumeling : Di makamkan DI desa Tugurejo kec. Sawoo
3. Raden Adirasa : Dimakamkan di desa Tugu kec. Mlarak
4. Raden Surodongsa : Dimakamkan Di Bayang kaki.
5. Raden Setroikromo : Dimakamkan di Desa Kori kec. Sawoo.
Sumber / pustaka : Buku Babad Ponorogo jilid V hal 36. Tulisan ini diterjemahkan dari naskah asli berbahasa jawa.
Post a Comment