Cerita Babad Kadhiri Ki Dermakanda


Pada suatu malam Ki Dermakanda duduk lalu membaca mantra, suasana menjadi hening, beberapa saat kemudian, Ki Dermakanda berhenti membaca mantra dan duduk berhadapan dengan ki Sondong.

Mereka berdua terlihat bercakap - cakap sambil berpandangan, Sekejap kemudian ki Sondong kehilangan kesadaran lalu terjatuh, tak lama kemudian dia bangun kembali dan duduk tegak. Pada saat yang sama, Ki Dermakanda berpura-pura atau bertingkah seolah-olah dia adalah mas Ngabei Purbawidjaja yang sedang menunggu pembicaraan sambil bertanya, “Selamat berkencan dengan Ki Buta locaya.”

Ki Sondong yang raganya sudah dimasuki jin Mas Ngabei Purbawidjaja memanggilku? "Ki Dermakanda yang berteriak dan bertingkah menjadi Mas Ngabei Purbawidjaja menjawab," Iya Kyai Buto Locaya, lalu aku akan membuka rumahku. Ada dua tujuan. Yaitu, pertama saya ingin bersahabat dengan tuan dan kedua karena saya punya argumen yang harus saya jawab atau saya selesaikan.


Persoalan itu adalah, aku mendapat tugas dari pembesar untuk mendapat keterangan tentang babad Nagari Kadhiri.

Bagaimana asal mulanya menjadi kerajaan, kapan berdirinya dan siapa yang menjadi raja yang pertama? Juga siapa yang menunda-nunggu sampai saat ini? Bagaimana ceritanya semua itu? Saya sangat kesulitan karena tidak mengerti cerita atau sejarah nagari Kadhiri ini. kapan berdirinya dan siapa yang menjadi raja yang pertama? Juga siapa yang menunda-nunggu sampai saat ini? Bagaimana ceritanya semua itu? Saya sangat kesulitan karena tidak mengerti cerita atau sejarah nagari Kadhiri ini. kapan berdirinya dan siapa yang menjadi raja yang pertama? Juga siapa yang menunda-nunggu sampai saat ini? Bagaimana ceritanya semua itu? Saya sangat kesulitan karena tidak mengerti cerita atau sejarah nagari Kadhiri ini.

Selama ini yang saya setuju hanya cerita Panji Kudarawisrengga atau Panji Inu kartapati dan juga masa sesudahnya. Cerita sebelum masa Panji saya tidak tahu sama sekali.

Menurut penurutan Ki Dermakanda, saya harus bertanya kepada tuan, Ki Buto Locaya. Untuk meminta saya mengundang tuan rumah untuk menjelaskan legenda itu jadi saya menjadi tenang dan bisa menjalankan tugas untuk mendapatkan cerita legenda kota Keddhiri.

Tuan pasti maklum tentang hal ini dan tuan pasti bisa menggambarkan legenda ini dengan benar dan baik, karena tuanlah yang menjadi raja atau pemimpin semua yang membuat kediri di Kediri.

”Ki Sondong yang sudah kerasukan Buta ... ha ... ha ..., Mas Ngabei purbawidjaja, jika hanya soal yang begitu, itu mudah sekali. Karena sungguh sayalah cikal-bakal atau orang pertama yang membuka hutan dan yang pertama bertempat tinggal di Kadhiri. Semula saya ini adalah manusia. Nama saya Kyai Daha. Saya memiliki saudara bernama Kyai Daka. Membuat saya dan adik saya bersama-sama menebangi hutan di dekat sungai Kadhiri (Brantas) dengan maksud untuk dijadikan pemukiman. Tempat itu masih merupakan hutan belantara yang merupakan hutan perawan yang belum tersentuh manusia, karena memang belum ada manusia yang hidup di situ.

Singkatnya, setelah kami selesai menebangi pohon-pohon yang besar-besar dan tinggi-tinggi, kemudian kami membersihkannya. Tempat itu kemudian kami jadikan tempat tinggal untuk kami berdua, saya dan adiksaya Kyai Daka. Ketika itu saya didatangi Syang hyang Wisnu yang bersabda kepada saya bahwa dia menghindar untuk mengejawantahkan atau turun dari kahyangan, menjadi manusia dan akan menjadi raja di permukiman yang kami buat. Saya setuju dan berserah diri atas kehendak Dewa Wisnu.


Kemudian Batara Wisnu menjadi raja di Kadhiri dan bergelar Prabu Sri Aji Jayabaya. Saya sendiri lalu beri nama Buta Locaya yang artinya: Orang bodoh tetapi lo kok bisa dipercaya. Sabda menyanyikan Prabu aji Jayabaya begini, "Engkau memang orang bodoh tapi bisa dipercaya. Tentang diriku aku hanya menjadi raja. Tapi aku tidak punya manusia hidup. ”Nama adikku, Kyai Daka juga memakai untuk memberi nama desa. Desa tersebut dinamakan Desa Daka.

Adik saya juga memberikan nama baru, yaitu Kyai Tunggul Wulung dan juga menggunakan senapati. ”(Catatan: Menurut karangan atau kitab Aji Pamasa, yang pertama menjadi raja Memang ada Prabu Gendrayana lalu berputra Prabu aji jayabaya, penjelmaan Batara Wisnu, jadi gunakan Wisnu Ngajawantah).

Selanjutnya Ki Dermakanda bertanya, "Selama tahun Prabu Jayabaya menjadi raja di Kediri dan dimanakah letak kerajaan?" Ki Sondong pun menjawab, "Letak kerajaannya disebelah Timur Bengawan dan dipanggil Mamenang atau Daha. Memenang adalah nama kerajaan. Sedangkan Daha adalah nama daerah (nagarai). Dinamakan Memenang sebab pada saat itu kerajaan ini merupakan kerajaan yang utama (pemenang) dalam hal. Nama Prabu jayabaya terkenal di seluruh Jawa dan pengaruhnya besar.

Raja-raja dari luar negeri yang tak bertanggung jawab di bawah duli paduka Sang Prabu Aji Jayabaya tanpa diperangi terlebih dahulu. Kerajaan-kerajaan yang lain di pulau Jawa menghiaskan upeti yang terdiri dari mas, intan, berlian, hasilbumi, hasil kerajinan tangan dan segala macam harta benda yang dibutuhkan serta puteri-puteri untuk digunakan dayang-dayang. Raja-raja di luar kekuasaan kerajaan Kediri bersatu dan bersujud di bawah raja Kadhiri.

Mereka melakukan ibadahnya dengan sungguh-sungguh, melakukan segala macam ilmu, seperti ilmu duniawi dan ilmu batin. Pengetahuan itu mereka kuasai dan mereka amalkan dengan sungguh-sungguh, sehingga mereka sangat taat dalam hal ambatar atau melakukan ibadahnya. Semua diyu, danawa sangat kesulitan.


Raksasa yang jahat dan penjara tak mampu menantang ketentraman di Kadiri. Karena itulah, pada waktu itu tanah Jawa sangat tentram dan taka da yang menantang menggangu, merusak atau membuat keonaran. Semua penghalang yang ada dimusnahkan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

”Melalui Ki Sondong, Kyai Buta Locaya melanjutkan penjelasannya,” Karena itu menyanyikan lagu Prabu dan balatentaranya, yang berpangkat tinggi atau rendah selalu dapat diputar sendiri dan saling bertatap muka. Jika malam hari dilantunkan, Prabu harus pergi ke pesanggrahan Wanacatur bersama putrinya yang bernama Mas Ratu Pangedhongan.

Dan yang mendapat tugas untuk mengiringi dan mengawal Sang Prabu dan puterinya adalah hamba sendiri dan adik hamba Ki Tunggulwulung. Biasa saja sampai di pesanggrahan, Sang Prabu duduk di halaman sambil melihat orang lalu-lalang dan berbicara membicarakan hal-hal yang penting, antara lain tentang pemerintahan agar kerajaan tetap tentram damai dan maju serta hal-hal penting lainya.

Karenanya pesanggrahan itu dinamakan Wanacatur yang artinya hutan tempat merembug atau berunding. Jika ada hal yang perlu dipecahkan, saya dan Tunggulwulung ditugaskan untuk mengiringi baginda raja pergi ke Wanacatur, diajak berbicara dan memecahkan semua yang membahas Sang Prabu.

Menurut pengamatan saya, Prabu Aji Jayabaya dan puterinya Mas Ratu Pagedhongan sedang memantau Wanacatur tak pernah menerima makan. Dia hanya menyantap bubur pati kunyit dan temulawak, meski dia dan puterinya berhari-hari, bahkan sampai tujuh atau sepuluh hari di Wanacatur.

Pengikutnya atau para abdi dalem makan nasi jagung atau ayam. Sang Prabu sendiri tidak pernah makan daging hewan jenis apa pun, tidak juga daging ikan sungai juga laut.

Karena itu pula di sebelah tenggaranya kota Mamenang ada desa bernama Siir dan si Lawak, sebab desa itu menghasilkan hasil bumi kunyit dan temulawak, yang menjadi santapan menyanyikan Prabu. Hati, Pikiran dan Jiwa Sang Prabu menjadi bersih dan mampu memahami segala sesuatu yang belum terjadi (weruh sadurunge winarah ataua sidik ing paningal, bahasa Jawa), karena ia dikenal bertapa dan Manahan hawa nafsu.
Apalagi yang menyanyikan Prabu itu titisan Wisnu. "Kemudian Ki Dermakanda yang mewakili Mas Ngabei Purbawidjaja bertanya," Apakah Prabu Jayabaya yang membuat ramalan jaman yang tidak sesuai dengan Ketentuan tentang Jayabaya yang kemudian disebut Serat Jayabaya? "Ki Sondong bertanya," Iya benar.

Namun Serat Jayabaya itu ada tiga. Yang pertama karangan atau ciptaan Syeh Sebaki (Syech Subakir), Perwakilan Sang Prabu Ngerum (Handramaut) yang memberi tumbal tanah Jawa dan di pasang di gunung Tidar, Magelang.

Atau dipasang di tanah Pacitan yang kelak di kemudian hari menghasilkan orang Jawa Baru, yang membuat angka satu atau membuat angka berkepala satu, sampai sekarang angka tahunya sudah mencapai tahun 1761.

Yang kedua Serat Jayabaya karangan Prabu Jayabaya bernama Serat Jayabaya atau Jangka Jaybaya. Yang ketiga Pangeran Banjarsari, ratu Jenggala yang kemudian pindah ke Kerajaan Galuh.

Karangan Pangeran Banjarsari disebut juga dengan Surat Jayabaya, sebab antara Prabu Jayabaya dan Pangeran Banjarsari itu sebenarnya sama. Jelasnya Pangeran Banjarsari titisan Prabu Jayabaya. Karena itu pula kesaktian kedua raja itu sama. Kedua-duannya merajai semua peran halus.

”Ki Sondong yang masih kerasukan Buta locaya berhasil kisahnya, “Pada jaman pemerintahan Prabu Jayabaya, datanglah seorang perempuan raksasa di Kadhiri, Seluruh penduduk Kadhiri kacau-balau karena kesulitan, Mereka mengira raksasa perempuan itu akan mengacau dan melakukan kejahatan.

Karena itu raksasa tersebut dikroyok oleh penduduk. Saya dan adik saya di Tunggulwulung ikut mengkroyok juga. Akhirnya raksasa perempuan itu belum roboh. Lalu saya bertanya bertanya. 'Apa maksudmu masuk ke daerah kami?' Raksasa itu menjawab, 'Aku akan melamar Prabu Jayabaya, untuk aku jadikan junjunganku atau suamiku.' Lalu saya bertanya lagi, 'Di mana tempat tinggalmu?' Dia menjawab, 'Rumahku di Lodoyong (lodaya, blitar?), Di tepi laut selatan.' pesan itu kemudian saya sampaikan kepada sang Prabu Aji Jayabaya.

Selanjutnya Sang Prabu mendatangi tempat raksasa perempuan dan menjumpainya, Sang Prabu bertanya apakah benar semua berita yang di sampaikan oleh Tunggulwulung dan saya? Sang raksasa menjawab, 'Benar.' Lalu Prabu Aji Jayabaya berkata, 'Jika memang benar demikian kehendakmu dewata tak bisa diizinkan. Namun, saya akan bertanya kepadamu, kelak setelah aku tiada (muksa), kira-kira dua puluh tahun kemudian, di tanah sebelah barat kerajaan Kadhiri ada yang mengangkat diri menjadi raja, Kerajaan itu beribukota di Prambanan Nama raja itu Prabu Prawatasari, raja pun yang akan menjadi jodohmu.

Sebelum Prabu Jayabaya menyelesaikan sabdanya, raksasa itu menghembuskan napasnya penghabisan. Sang Prabu puas keheranan dalam perasaan, dia kemudian memberi dua perintah kepada saya.

Desa pertama di sebelah selatan Mamenang di berinama GUMURAH (yang kemudian dikenal menjadi Girah dan sekarang menjadi wilayah kecamatan Gurah). Diberi nama Gumurah karena kompilasi kami bersama penduduk desa mengeroyok raksasa perempuan itu, rakyat bersorak-sorak dan berteriak-teriak sehingga menimbulkan suara hiruk pikuk, (gumurah = gumerah, bahasa Jawa).

Kedua, raja memutuskan agar dibuat patung yang terdiri dari perempuan yang baru diterima itu, namun diambil di pahat yang sama dengan wajah patung gupala. Patung raksasa diberi nama patung Nyai.Desa tempat patung itu dinamakan Desa Nyaen.

Desa itu sampai sekarang masih ada, terletak di sebelah selatan bekas kota Mamenang. Tinggi patung itu 14 kaki. Bola sudut sebesar alas cawan (lepek, bahasa Jawa), bulat besar, posisinya berlutut. Tidak lama setelah memberi dua perintah itu kemudian Sri Aji Jayabaya muksa.

Saya dan Tunggulwulung ikut muksa ikut menyanyikan Prabu, Namun sebelum muksa Sang Prabu Aji Jayabaya memberi perintah lagi. Saya ditugaskan untuk bertempat tinggal di GOA SELOBALE yang terletak di sebelah barat Banawi atau kali Brantas. Saya membuat pemimipin untuk membuat halusyang bermukim di situ.

Sementara Tunggulwulung ditugaskan untuk bertempat tinggal di gunung Kelud, menjadi raja membuat halus yang ada di situ. Tunggulwulung juga. Prabu Jayabaya juga bersabda pada saya 'Engkau jangan salah terima. Mengapa meninggalkan orang yang lebih tua dari pada adikmu saya tempatkan di sebelah barat sungai Brantas? Sebabnya adalah karena tanah di sebelah barat sungai bernuansa dingin, maksudnya taka da perkara atau hanya sedikit perdebatan yang harus dihadapai dan dicari pemecahannya.

Engkau hanya perlu disetujui. Tunggulwulung saya beri tugas di sebelah timur sungai Brantas, sebab tanah disitu bernuansa panas. Banyak sekali perkara atau kesulitan yang harus diatasi dan diatasi. Di tempat itu sering terjadi lahar yang merusak desa-desa, juga hutan-hutan yang bisa dihabiskan di sekitar desa. Jadi si Tunggulwulung saya tugaskan untuk memutuskan aliran lahar.

Aliran bisa melalui aliran yang lama, tidak bisa melalui jalan baru atau membuat aliran baru. Jika ingin menerjang desa-desa, penduduk desa meminta izin terlebih dahulu dengan jalan orang-orang desa diberi wisik atau ilham yang jelas sebelumnya, Jadi mereka bisa mengungsi ke tempat yang aman dan selamat. Hasil hutan, hasil pertanian, pokoknya, semua hasil bumi, menjadi makanan penduduk, kau jaga baik-baik, jangan sampai mencapai lahar.

Selain itu, jika ada orang-orang yang berhasil merusak hutan atau menebangi pohon-pohon besar yang buahnya dapat dimakan manusia datangnya si perusak itu kau hokum, kau ganggu, agar dia tidak berhasil mengusahakannya. Gunanya dapat menampung orang yang mengetahuinya atau berkencan dengan tempat itu dan membutuhkan pertolongan, hasil hutan atau bumi yang dapat dimakan dapat disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan.

Akan tetapi cegahlah mereka yang ingin membawa barang-barang itu ke negerinya, Pokonya orang asing tidak boleh membawa pulang barang-barang dari Kadhiri ke negerinya. "Melalui ki Sondong, Ki Buta Locaya mengambil ceritanya, “Saya dan Tunggulwulung berhasil menyanyikan lagu Prabu dengan sungguh-sungguh. Setelah bersabda demikian Sang Prabu lalu pergi ke Kahyangan.

Sementara saya sendiri menjadi siluman, mengatur tanah di sebelah barat sungai Brantas dan Tunggulwulung menyetor tanah di sebelah timur sungai Brantas. Sampai sekarang saya dan Tunggulwulung masih tetap menjalankan tugas yang di sabdakan oleh Sang Prabu Aji Jayabaya. Karena, sampai sekarang mengundang ada penduduk yang bertempat tinggal di sekitar gunung Kelud yang mau menebangi pohon-pohon besar, pastilah yang dibutuhkan akan sakit atau dibasahi, mereka diganggu oleh si Tunggulwulung.



Orang-orang yang menghabiskan zina (mesum) di tempat yang pasti dimakan harimau. Jadi orang-orang yang bertempat tinggal di situ harus jujur, baik budi pekertinya, tidak boleh berhati jahat. Sampai sekarang tanah Kadhiri yang terletak di sebelah timur Bengawan (Brantas) biasa dibuat tempat mengungsi orang-orang luar Keraton Kadhiri yang menyebabkan kesengsaraan.

Para pengungsi itu akhirnya menjadi bahagia dan mendapat kemuliaan. Semua itu terjadi karena sabda Sang Prabu Aji Jayabaya. Namun, mereka sudah kaya, cukup sudah serba cukup, kemudiaan ke tumpah darahnya, mereka akan jatuh miskin lagi. Sampai sekarang saya masih tetap menjadi pemimpin atau raja mengumpulkan halus di sebelah barat bengawan dan bertempat tinggal di goa Selabale. Sementara Tunggulwulung bertempat tinggal di gunung Kelud.

Waktu itu ada seorang biernama Ki Krama Taruna yang ikut muksa menjadi siluman, lalu diperintahkan bertempat tinggal di Sendang (mata air) Desa Kalasan. Tempat tersebut terletak di barat daya kota Mamenang, di sebelah barat gunung Kelud dan menjadi dhanyang atau datu di situ.

Namanya tetap Kyai Krama Taruna. Dia berada di bawah kekuasaan Tunggulwulung juga. Sampai sekarang para petani yang memiliki sawah di situ, berhasil sawahnya kekurangan air lalu diadakan upacara dengan jalan menyediakan sesaji, sendhang udara atau mata air di situ diaduk, Taklama kemudian air yang keluar dari mata air itu kian nampak banyak, permukaanya tampak naik lalu airnya mengalir ke sawah ladang.

Setelah Sang Prabu Jayabaya muksa, beberapa waktu kemudian di Kadhiri ada banjir besar. Kraton Mamenang musnah dan pindah ke Purwacarita asal mulanya menjadi hutan kembali.

Sedang Kerajaan Mamenang kemudian pindah ke Medang Kamulan. " Tempat tersebut terletak di barat daya kota Mamenang, di sebelah barat gunung Kelud dan menjadi dhanyang atau datu di situ, namanya tetap Kyai Krama Taruna.

0/Post a Comment/Comments

CAKRAWALA Cyber

👁️‍🗨️ Dibaca :